Perancis dan Inggris akan memimpin pertemuan sekitar 40 negara pada Jumat (17/4/2026) di Paris, untuk membahas upaya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, di tengah memanasnya konflik di kawasan tersebut.
Pertemuan ini juga menjadi sinyal kepada Amerika Serikat bahwa sejumlah sekutu dekatnya siap mengambil peran dalam memulihkan lalu lintas pelayaran internasional, meski tidak terlibat langsung dalam konflik.
Sejak serangan udara AS-Israel pada 28 Februari 2026, Iran dilaporkan menutup sebagian besar akses Selat Hormuz bagi kapal asing.
Baca juga: Iran Tantang Trump Lakukan Invasi Darat, Ejek AS Tak Berani Seberangi Selat Hormuz
Situasi semakin memanas setelah AS pada Senin (13/4/2026) memberlakukan blokade terhadap kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran.
Presiden AS Donald Trump bahkan meminta negara-negara lain ikut menegakkan blokade tersebut, serta mengkritik sekutu NATO yang dinilai belum mengambil langkah serupa.
Namun, Inggris, Perancis, dan sejumlah negara lain menilai bahwa bergabung dalam blokade berarti ikut terlibat dalam perang.
Meski begitu, mereka menyatakan kesiapan untuk membantu menjaga Selat Hormuz tetap terbuka jika tercapai gencatan senjata permanen atau konflik berakhir.
Menariknya, inisiatif yang dibahas dalam pertemuan ini untuk sementara tidak melibatkan AS maupun Iran.
Meski demikian, diplomat Eropa menyebutkan bahwa setiap misi yang realistis tetap membutuhkan koordinasi dengan kedua negara tersebut. Hasil pertemuan nantinya juga akan disampaikan kepada Washington.
Fokus pada keamanan pelayaran
Sebagaimana dilansir Reuters, Jumat, berdasarkan dokumen yang dibagikan kepada negara-negara undangan, pertemuan ini bertujuan menegaskan dukungan diplomatik penuh terhadap kebebasan navigasi di Selat Hormuz, serta pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional
Selain itu, pertemuan juga akan membahas dampak ekonomi terhadap industri pelayaran global, termasuk keselamatan lebih dari 20.000 pelaut yang terjebak serta kapal-kapal komersial yang tertahan di kawasan tersebut.
Para peserta juga akan mengkaji persiapan pembentukan misi militer multinasional yang bersifat defensif, yang dapat dikerahkan jika situasi memungkinkan, guna menjamin keamanan jalur pelayaran.
Di akhir pertemuan, para pemimpin diperkirakan akan mengeluarkan pernyataan bersama yang memberikan gambaran lebih konkret terkait kemungkinan bentuk misi tersebut, meski belum akan merinci kontribusi masing-masing negara.
Kehadiran para pemimpin dunia
Sejumlah pemimpin dunia dijadwalkan hadir langsung di Paris, di antaranya Presiden Perancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Kanselir Jerman Friedrich Merz, serta Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.
Sementara itu, pejabat dari berbagai negara di Eropa, Asia, dan Timur Tengah akan mengikuti pertemuan secara virtual.










